Sabtu, 20 Oktober 2012

Kisah Psikologis

 

Arti Sebuah Kehidupan                                                

Pagi yang sangat indah menyambutku segera. Aku sangat senang jika pagi ini cuaca begitu membaik. Kicauan burung yang sangat merdu,suara deguran ombak,begitu juga angin pagi yang sangat menyegarkan. Saat aku mulai membuka jendela kamarku,pemandangan pantai itu mulai nampak di hadapanku. “Tuhan, andai saja semua ini kan terus ada ! “Kata hati kecilku mulai berdoa. Tiba tiba seseorang mengetuk pintu kamarku….TOK..TOK..TOK..
“Siapa?”Tanyaku                                                                                                     
“Ini nenek ,Silva!”Jawab nenek membuka pintu kamarku.                                   
“Iya..nek”Balasku                                                                                                                
“Silva sayang, mandi yuk?”Tanya nenek                     
“Mhm..boleh..”Jawabku senang
“Pakai ini dulu ya!”Serguh nenek menyodorkan 2 pasang tongkat sebagai alat bantu aku berjalan.
 Nenek membantuku berdiri,lalu akupun mandi dengan di bantu nenek. Kalian tau kenapa aku pincang??? Ya jawabannya adalah karena aku terlahir menjadi gadis cacat. Sejak aku berumur genap 1 tahun,ke 2 orang tuaku sudah tidak ada. Mereka pasti hampa jika mereka tau kalau aku pincang untuk selama lamanya…Oh Tuhan aku  ingin hidup ini seindah  surga walaupun kaki kanan ku telah hilang….

Setelah mandi dan berpakaian,aku berbincang bincang di dekat pantai bersama nenek.“Nek,kenapa sih manusia ada yang dilahirkan dengan cacat??”tanyaku mengawali. “Silva, asal kamu tau ya nak, semua manusia itu dilahirkan dengan cacat tidak ada manusia yang sempurna ,cucuku.”Terang nenek mengelus rambutku yang digerai.”Coba nenek lihat anak itu dan orang tuanya, mereka begitu bahagia!”Responku menunjuk sebuah keluarga yang sedang bermain di pantai. Tiba tiba saja bola yang mereka mainkan menggelinding ke arahku dan nenek…
“Maaf,,ya!”Kata seorang wanita  yang kemungkinan ibu nya.
Nenek hanya mengangguk. Wanita itu sempat melihatku dengan aneh dan kemudian bertanya”Sakit apa dek?” Nenek menjawab untuk mewakiliku “Cucu saya nggak sakit apa-apa kok.” Wanita itu mendekati nenek”Memang seorang yang cacat tidak sebandaing dangan seorang yang memilki penyakit mematikan apalagi jika ia suda di vonis kematian.”celoteh wanita itu.”Apa maksud anda?”Tanyaku antusias. ”Anak saya Cathrine akan meninggal. Umurnya tak akan lama lagi.”Jawab wanita itu. Aku kaget mendengar omongan wanita itu.”Memangnya anak tante sakit apa?”Tanyaku lagi.”Anak saya sakit kanker hati.”Dengus wanita itu dengan berlinang air mata. Aku coba mengamati anak dari ibu tadi yang katanya bernama Cathrine. Wajahnya memang begitu pucat. Badannyapun amat kurus kering tinggal tulang belulang. Tanpa sengaja aku menitikkan air mata. “Tuhan,apa ternyata diuar sana masih banyak yang bernasib sama seperti aku? Dan bahkan ada yang lebih parah di banding aku?” Kata hati kecilku mulai berdoa. “Saya hanya bisa menyemangati Cathrine ketika dia mulai putus asa untuk hidup. Sekarang kondisi fisiknya semakin parah. Dan kata dokter umurnya cuma tinggal meenghitung hari. Terkadang ia slalu menyesali akan hidupnya. Ya,saya mau bertindak apa lagi dengan keadaanya. Sudah ratusan juta rupiah melayang hanya demi kesembuhan Cathrine.” Rintih wanita itu. “Tante harus percaya dengan Tuhan akan kebesarannya. Dan masalah hidup dan mati itu hanya ada di tangan Tuhan..bukan dokter. Tante minta kepadaNya,mohon kepadaNya,dan yang terpeting Tante harus percaya sama Tuhan…Tante janji kan sama Cathrine?”Kataku menyemangati wanita itu. “Iya nak saya akan lakukan yang terbaik hanya untuk anak saya satu satunya…Pasti!!! Namun jika semuanya sia sia bagaimana?”Jawab wanita itu menangis deras. “Jika itu mau Tuhan,tolong Tante menerimanya..mangikhlaskannya pergi!”Himbauku juga menitikkan air mata..
Hari ini adalah hari yang mengharukan dimana aku bisa belajar lebih banyak lagi. Di sisi itu Tuhan telah mengingatkanku sebagai seorang hamba yang kurang bersyukur kepadaNya…



4 Tahun kemudian……

Pagi ini aku dan nenek akan pergi ke pasar untuk belanja bahan bahan membuat batagor yang akan di jual. Saat di perjalanan…….
“Nek,pasarnya masih jauh ya?” Tanyaku penasaran.
“Iya cucuku.” Jawab nenek lembut
Aku berjalan sambil memandang nenek yang wajahnya mulai berkeriput. Aku sadar bahwa usia nenek semakin tua yakni 68 tahun.
“Nek,wajah nenek semakin tua tapi juga semakin cantik dan kelihatan masih muda.! Hihhi” Candaku menggelikan.
“Cucuku Silva kau juga bertambah dewasa nak,tapi kau masih saja suka menggoda nenek!” Canda nenek berganti.
“Oh ya? Padahal usia Silva sudah 16 tahun….” Pekikku sekedar.
Di perjalanan,aku dan nenek asyik bercanda tawa sesuka hati. Dan bahkan sampai tidak tau kalau kami sudah sampai tujuan.
Namun sekejap aku merasakan sakit di bagian kepala kananku. Aku hanya diam tak berkata satu katapun pada nenek. Aku terus melanjutkan belanja bersama nenek,tak menghiraukan sakit di bagian kepalaku itu. “Nek masih lama apa?”Tanyaku agak merintih menahan rasa sakit ini. “Lho memengnya kenapa?”Tanya balik nenek. “Nggggh..nggak papa aja nek. Cuma tanya.”Himbauku  dan….BRUKK..
Aku pingsan secara tiba tiba.
Nenek tak menyadari bahwa aku telah pingsan. Nenek tetap saja terus berbelanja.”Silva kamu lihat tomat ini,cantik kan?”Tanya nenek. Aku tak menjawab pertanyaan nenek. Lalu nenek mengulangi pertanyaanya lagi. Tetapi tetap saja aku tak menjawab. Karena nenek mulai capek bertanya,akhirnya nenek memutuskan untuk menengok ke arahku. “APAAAAA?????? SILVA CUCUKU!!!!!!!!!!!!”Jerit nenek histeris melihatku tergeletak di dekat keramaian. Nenek segera membantuku berdiri, walau aku masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Orang-orang yang ikut iba denganku dan nenek segera ambil tindakan.
Orang-orang menyarankan agar aku dibawa ke rumah sakit terdekat,tetapi apa jadinya jika nenek tak punya biaya pengobatanku nanti. Akhirnya nenek terpaksa membawaku pulang ke rumah untuk merawatku sendiri.
Ketika sampai dirumah….
Aku mulai dapat melihat sesuatu yang ada dihadapanku secara remang-remang tidak jelas. Namun tak ada salahnya bila aku berusaha untuk dapat melihat jelas. 1 menit kemudian,aku mendengar suara nenek.”Silva…kamu sudah siuman sayang?”Tanya nenek mendekat.”Aku ada di mana nek?”Sahutku bingung.”Kamu ada dirumah.Ini makan dan minumlah dahulu agar pikiranmu menjadi pulih setelah pingsan.”Saran nenek membawakanku semangkuk bubur dan segelas air putih.”Apa nek? Pingsan?”Kagetku atas jawaban nenek.”Iya. Maafkan nenek ya karena nenek tidak sempat membawamu ke rumah sakit.”Jawab nenek dengan nada lirih. “Nenek tidak pantas berkata seperti itu…Seharusnya Silva yang minta maaf soalnya Silva udah bikin susah nenek sedari Silva lahir.”Tangisku merangkul nenek.”Silva..! Semoga Tuhan selalu ada pada setiap kau melangkah nak.”Doa nenek menitikkan air mata.
Ketika sang surya mulai meredupkan sinarnya,aku coba untuk melihat suasana luar dari kaca jendela. Aku mulai berfikir bila nanti kelak,Tuhan akan mencabut semuanya termasuk apa yang ada dihadapanku sekarang. Yang aku inginkan sekarang hingga nanti adalah NENEK!!!! Tanpa nenek hidupku tak akan seindah ini. Jadi Tuhan boleh berkehendak apa saja…Tetapi aku mohon Tuhan,jangan kau pisahkan antara aku dan nenek.
Keesokan harinya aku sedang menyirami tanaman mawar kesukaanku yang mulai berbunga. Namun,kepala sebelah kananku terasa sakit kembali. Aku merasa takut dan trauma atas apa yang telah terjadi denganku kemarin. Aku coba untuk menemui nenek dan bercerita atas apa yang terjadi dengan diriku. Tiba-tiba saat aku menginjakkan kaki ke dalam rumah,pandanganku menjadi gelap……dan……BRUKK!!!
Aku terjatuh seketika. Nenek yang mengetahui kejadian itu langsung menggotongku masuk ke kamar. Sepertinya nenek sangat cemas melihat keadaanku. Tapi nenek mencoba tenang dengan selalu berdzikir kepada Tuhan.
2 menit berlalu...
Aku sadar.”Silva..”Sambut nenek bermuka cemas.
“Nek,Silva merasa aneh dengan kondisi Silva yang sekarang ini. Silva takut nek…hiks..hiks..Apa yang telah Tuhan berikan pada tubuh Silva ini sudah lebih dari cukup,dan bagaimana jika Tuhan masih memberi penyakit pada tubuh Silva ini nek..hiks…hiks…Nek tolong Silva…”Jeritku menangis.”Silva kamu gak boleh bilang seperti itu,,kamu nggk sakit apa-apa kok. Itu mungkin hanyalah sakit kepala biasa.Sudahlah nak jangan bilang seperti itu!”Kata nenek menenangkanku. “Nggak mungkin nek…kalau memang bener Silva sakit kepala biasa kenapa Silva harus pingsan terus-terusan nek?”Tangisku merangkul nenek. Nenek tak bisa menjawab semua pertanyaanku. Nenek hanya bisa menangis bersamaku.
Malam hari ini aku tidak mau melakukan apa-apa. Hatiku sakit akan apa yang ada pada diriku. Kenapa aku yang masih berumur 16 tahun harus menanggung semuanya…….TUHAN
3 hari kemudian..
Pagi yang cerah. Aku sedang makan singkong bersama nenek didekat pantai. Sekejap dadaku terasa sesak dan kepalaku merasa pusing sebelah kanan. Aku mulai putus asa merasakan sakit ini.”Nek,kepala Silva sakit..trus dada Silva sesak.”Geruhku kesakitan. Nenek segera membawaku masuk ke rumah. “Nek,Silva gak kuat..”Rintihku kemudian pingsan. Nenek sangatlah terkejut melihatku. Kali ini nenek lebih cemas dari pada biasanya. Akhirnya dengan amat terpaksa,nenek membawaku ke rumah sakit.
Setelah diperiksa oleh dokter..
“Cucu saya terkena penyakit apa dok?”Tanya nenek khawatir.
“Dari hasil rongsen yang telah ada,cucu anda terserang penyakit kanker otak kanan. Gejala awal sering sakit kepala sehingga pingsan secara terus menerus. Gejala kedua jika mulai parah,dada bisa menjadi sesak. Itu kemungkinan sel kanker sudah menjalar ke saluran pernapasan.”Jelas dokter panjang lebar.
“Lalu saya harus bagaimana dok?”Tanya nenek sangat panik.
“Penyakit ini sangat ganas serta sukar dibasmi. Biasanya harus di lakukan kemoterapi untuk pembasmiannya.”Kata dokter.
”hiks…hiks…hiks…Tapi dok berapa biaya yang akan saya tanggung? Apakah tidak ada cara lain? Tolong dok…hiks….hiks….saya mohon dok…saya tidak ingin kehilangan cucu saya satu satunya dok..”Tangis nenek histeris.
“Tenang bu,tenangkan pikiran anda. Menurut saya biaya kemoterapi itu 50.000.000,00 untuk 5 kali kemoterapi perbulan. Tapi cara lain membasmi kanker selain kemo itu tidak ada,bu.”Terang dokter.
“Tapi dok saya tidak punya biaya sebanyak itu. Saya ini hanyalah orang miskin dok. Cucu saya saja di bawa kesini saat saya sedang tidak ada uang dok.hiks…hiks…hiks…”Jawab nenek sangat sedih.
”Saya turut iba dengan kondisi ibu. Ya sudah,biaya kontrol cucu ibu gratis. Sebagai pendampingnya agar cucu ibu tidak lagi pingsan,saya memberi 1pc obat anti sakit kepala. Masalah kemoterapi itu silahkan ibu pikirkan dulu bersama keluarga.”Saran dokter pada nenek.
Saat berada dirumah,aku masih belum juga sadar. Aku merasa sadar ketika aku mendengar tangisan nenek di dekatku. “Nek,,nenek kenapa nangis?”Himbauku pelan.”Silva kamu sudah sadar nak?”Pekik nenek mengusap air matanya yang sempat melintas dipipi nenek.”Apa yang terjadi sama Silva nek? Apa Silva pingsan lagi?Lalu??”Tanyaku kebingungan.”Tidak Silva. Kamu tadi itu merasa kecapaian,trus akhirnya kamu ketiduran. Apa kamu lupa?”Jawab nenek berbohong. “Lantas jika itu terjadi kenapa nenek menangis?Nenek bohong kan sama Silva?Iya kan?JAWAB NEK,JAWAB JUJUR SAMA SILVA!!! Hiks…hiks…hiks….Nek aku ini kenapa nek??NEK,SILVA MOHON JANGAN BOHONG!!!”Jeritku sembari menangis.”Iya nenek memang bohong. Tadi kamu pingsan. Setelah itu kamu nenek bawa ke rumah sakit dan didiagnosa terkena,……hiks..hiks”Lirih nenek sedih mengingat jawaban dokter tadi.”Terkena apa nek? Apa nek???”Dengusku penasaran.”Tapi kamu harus berjanji tidak akan menyerah atas apa yang Tuhan berikan..Sungguh?”Yakin nenek.”Sungguh!!”Yakinku.”Kamu terkena KANKER OTAK KANAN…HIKSSSSSSS,HIKSSSSS”Jawab nenek. Aku sangat kaget mendengar jawaban nenek.
Mendengar kabar bahwa aku menderita kanker,hatiku sangat sedih. Rasanya aku ini hanyalah seperti mayat hidup. Aku ingin sekali protes pada Tuhan. Tapi aku menjadi ingat ketika 4 tahun lalu saat aku bertemu dengan Cathrine. Aku merasa Cathrine lebih bersyukur dari pada aku. Namun aku memang merasakan bahwa Tuhan tidak adil. Tuhan telah mengambil kedua orang tuaku,kaki kananku,dan Tuhan juga menghendaki aku serta nenek hidup menderita,sekarang Tuhan malah memberiku penyakit mematikan nomer satu. “Tuhan,apa kesalahanku???”Pikirku dalam hati. Seumur hidupku aku selalu menjauhi larangan Tuhan. Aku berfikir apa salahku pada Tuhan. Sungguh sangat menyedihkan menjadi diriku. Apa Tuhan marah padaku? Selama hidupku,aku ingin menjadi seperti gadis-gadis diluar sana. Mereka pernah tertawa. Sedangkan aku? Mereka pernah melihat orang tua mereka. Sedangkan aku? Mereka bisa berjalan dan bisa bersekolah. Sedangkan aku? Mereka bisa makan enak. Sedangkan aku disini hanya bisa menjalani hidupku bersama nenek dengan sabar.
Berhari hari aku hanya diam sambil memandang langit. Nenek ikut bersedih melihatku seperti ini. Aku mulai menyadari bahwa nanti umurku tak akan lama. Badanku semakin kurus.Daya tahan tubuhku menurun. Aku bertambah sedih ketika nenek menangis memandangku. Seakan aku merindukan dulu semasa kecilku saat aku dan nenek masih bisa saling menggoda. Sekarang masa masa itu tinggalah kenangan.
Pagi ini nenek mengajakku jalan-jalan ke kota. Aku sangatlah senang walau setengah hatiku masih merasa sedih. Namun aku hanya ingin nenek tersenyum terlihat bahagia.
“Silva,apa kamu merasa baik-baik saja?”Tanya nenek mengelus pundakku.
“I..iya nek. Sudahlah badan Silva udah enakan kok. Lagipula inikan hari libur,jadi,mendingan jalan-jalan aja ke luar rumah.”Jawabku ragu.
Sekilas dari garis keriput di wajah nenek mulai terlihat jelas. Aku hanya berfikir’sampai kapan Tuhan, saya dan nenek bisa saling tersenyum? Apakah kau akan mengajakku pulang ke rumahmu lebih dulu daripada nenek?’
            Sesampainya di kota,aku dan nenek mengujungi Taman Wisata. Taman Wisata adalah sebuah taman yang cukup sederhana dengan danau di tegah taman dan di hiasi oleh wahana permainan anak-anak yang cukup banyak. Aku sangat bahagia walaupun tempat wisata yang kukunjungi sederhana. Tidak seperti gadis-gadis yang lain. Yang mungkin tempat bermain mereka ada di mall.
“Silva,kamu senang tidak?”Renggut nenek agak sedih.
“Tentu nek. Bahkan Silva merasa kanker itu udah gak ada.”Jawabku.
“Syukurlah Tuhan masih memberi nenek rezeki untuk membahagiakan cucu nenek yang paling cantik.”Puji nenek denan mata berkaca-kaca.
“Nenek kenapa nangis?”Tanyaku juga menahan tangis.
“Silva,apa kamu masih kuat?”Balik nenek menangis keras.
“Nek,demi Tuhan Silva bahagia banget masih bisa bersama nenek. Silva juga bersyukur sama Tuhan karena Silva masih diberi nafas. Semoga kalau Silva meninggal nanti, Silva masih ingat saat-saat bahagia Silva sama nenek.”Harapku memandang langit.
“Berjanjilah cucuku….Bahwa kau takkan meninggalkan nenek.!”Isak nenek.
“Sudah nek,sudah jangan nangis. Silva nggak akan ninggalin nenek…AU SAKIT…”Resahku memegang kepala sebelah kananku.
“Silva,kamu nggak papa?”Tanya nenek khawatir.
“S…S…Sakit nek….AU…SAKIT SEKALI….NEK…SAKIT!!!!!”Jeritku kesakitan.
Nenek segera minta bantuan orang-orang sekitar untuk menolongku. Akhirnya aku dibawa ke rumah sakit yang pernah kukunjungi dahulu.
Setelah diperiksa oleh dokter yang dulu penah menangani aku….
“Silva telah mengalami kanker otak stadium 3. Ini sudah mulai parah,bu. Seharusnya sudah ada penanganan sejak pertama menderita kanker.”Kata dokter cemas.
“Lalu bagaimana dok?”Tanya nenek sembari terus berdoa.
“Tidak ada cara selain dioprasi dan dikemoterapi. Ini harus!”Saran dokter.
“Beri saya waktu dok.”Pinta nenek.
“Kalau boleh tau ibu ini bekerja apa?”Tanya dokter.
“Saya seorang pedagang batagor keliling,dok.”Jawab nenek beerkecil hati.
“Baiklah. Oprasi pengangkatan kanker akan diadakan 3 minggu lagi sembari menunggu dokter dari Amerika datang. “Jelas dokter tersenyum.
“Tapi saya tidak punya biaya…”Serguh nenek.
“Ini gratis bu.”Sela dokter.
“Apa benar?”Tanya nenek tak percaya.
“Ya,bu. Benar!”Jawab dokter.
“Alhamdlulilah ya Tuhan kau kabulkan doaku. Terima kasih Tuhan….Terima kasih banyak telah membantu cucu saya…”Rasa syukur nenek sangat besar setelah dokter megijinkanku ikut oprasi gratis.
            Di dalam kamar perawatan aku bermimpi bertemu seorang laki-laki tua membawa catatan. Aku sendiri belum tahu siapa dia dan apa yang dibawanya. Saat aku mau bertanya ia malah bertanya padaku. “Namamu Silva Nadia?”Tanyanya sembari melihat buku catatan miliknya. Aku hanya mengangguk saja. Lalu ia tersenyum padaku dan berkata,”Jangan cemas waktumu di bumi masih lama.” Aku sangat tak mengerti apa maksudnya. Tapi aku tau bahwa aku akan meninggalkan bumi untuk selama-lamanya. Dan laki-laki tadi adalah seorang malaikat yang menyamar.
Tida-tiba aku terbangun dan memanggil nama nenek…
“Nenek…”Panggilku.
Tetap nenek tak menjawabnya. Nenek hanya menangis keras sampai aku merasa penasaran. Akhirnya aku bertanya “Nek kenapa nenek menangis ada apa lagi?” Nenek bertanya,”Kamu sudah sadar?” Aku langsung menjawab,”Tolong nenek jangan mengalihkan perhatian! Apa Silva akan mati?”. Nenek hanya diam lalu nenek tersenyum sambil berkata,”3 Minggu lagi kamu akan dioprasi gratis. Kamu akan sembuh.” Aku hanya terdiam memandang nenek sambil menahan rasa sedih yang sedang aku terima.  Aku tidak banyak banyak  berharap tentang kesembuhanku. Aku yakin kalau nanti aku akan mati. “Sekarang hidupku tidak akan lama lagi nek. Kenapa nenek terlalu berharap dengan oprasi gratis itu yang bisa menyenbuhkanku dari kanker ini. Sebentar lgi aku tidak akan bisa berbicara,dan menangkap suatu pembicaraan karena otakku tak kan berfungsi. Dan aku hanya bisa tidur sampai aku nggak bernafas nanti. Hiks…hikss…Kenapa Tuhan begitu tega denganku???”Keluhku sangat sedih hingga aku mulai mengeluarkan banyak air mata. Nenek pun langsung bangkit. “TIDAK. Cucuku tidak akan ninggalin nenek sendirian. Silva,kamu tidak boleh berkata seperti itu nak…Nenek memang sangat kecewa pada diri nenek. Betapa bodohnya nenek hingga nenek tega menyiksa cucu nenek satu-satunya. Nenek minta maaf Silva,karena sedari kamu kecil nenek tidak pernah membahagiakan kamu. Nenek pasti tau kamu ingin bersekolah tapi nenek tidak pernah bisa mengabulkan keinginan Silva. Nenek tau kalau Silva ingin seperti anak-anak lain diluar. Maafkan nenek ya cucuku…hiks..hiks..hiks”Tangis nenek menjadi-jadi.


3 Minggu kemudian….
Pada hari Senin tanggal 2 Desember 2012,kondisi tubuhku memang sangat drop. Aku sudah seperti mayat hidup. Kali ini aku sudah tidak bisa melakukan aktivitas. Aku hanya tidur terlentang sambil di beri oksigen. Karena mulutku susah digerakkan,akhirnya sebagai pengganti makanan setiap 7 jam sekali aku di beri obat agar aku tidak lemas. Aku juga sudah tidak bisa melihat dan merasakan apapun karena mataku sudah buta. Gerakanku hanya seperti orang cacat. Tetapi perasaanku sedang tidak berada di dunia. Melainkan aku berada di sebuah cahaya putih. Anehnya aku di sana tidak sendirian. Di sana juga banyak orang-orang tapi aku tidak mengenal mereka. Sepertinya mereka yang mengenalku. Tiba-tiba datang seorang anak perempuan yang menghampiriku. “Hay kamu Silva Nadia ya?”Tanyanya. Aku hanya diam dan mengingat-ingat wajah anak perempuan yang juga pernah aku lihat sebelumnya. “Kamu siapa?”Tanyaku penasaran karena aku seperti pernah berjumpa dengannya. “Aku Cathrine! Aku pernah bertemu denganmu di pantai 4 tahun lalu. Masih ingat?”Jawabnya sembari mengajakku bersalaman. Aku pun tersenyum,”Ya. Lalu kenapa aku berada di sini?”Tanyaku. “Tuhan sengaja mengundangmu ke sini. Kau lihat mereka semua!”Tunjuk Cathrine. “Ya. Mereka sangat aneh. Aku tidak mengenal mereka lalu kenapa mereka memandangku seperti itu?”Tanyaku takut. “Mereka ingin berkenalan denganmu. Oh ya kalau kamu ingin berkenalan, silahkan, tetapi hanya bisa saat kamu tinggal di sini slama-lamanya. Sebentar lagi,Silva! Karena daun di surga telah menggugurkan namamu!”Jelas Cathrine tersenyum.

Tiba-tiba aku terbangun…..
            Aku sangat merasakan perbedaan saat aku berbincang-bincang dengan Cathrine di dalam mimpi tadi. Rasanya aku di bumi sudah tidak berguna lagi,namun aku juga amat merasa kasihan pada nenek yang sangat menanti kesembuhanku. Aku sendiri juga ingin sembuh tumbuh normal seperti gadis-gadis lain. Tapi aku menyerah….                                                                                       Seribu air mata bobol dari mataku. Aku tidak tau kapan aku akan sembuh atau malah aku akan merasakan tidur di bawah timbunan tanah. Tanpa sengaja aku mendengar samar-samar perbincangan antara dokter dan para perawat. “Berapa lama waktu oprasinya dok?”Tanya sang perawat. “Saya tidak tau. Mungkin agak lama karena ini pengangkatan kanker otak stadium 3.”Jawab dokter. Kemudian di bagian pergelangan tanganku terasa sangat sakit seperti ada jarum suntik masuk. “Silva,harus tidur dulu sampai oprasi selesai. Dan jangan lupa untuk selalu berdoa agar oprasi ini bisa berjalan lancar.”Kata sang perawat memang sengaja membiusku dengan suntikan. Sebelum aku tidur batinku berdoa,”Tuhan penguasa alam semesta,saya berserah diri kepadamu…Saya tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Walau pun badan saya sakit tetapi saya masih bisa berdoa memohon padamu. Maafkanlah dosa-dosa saya terutama dosa-dosa orang yang ada di sekitar saya. Saya ingin tak ada air mata lagi di pipi nenek. Berikanlah kebahagiaan pada nenek ya Tuhan…” Setelah saya mengucap doa itu saya tertidur….

Di luar, nenek tampak sangat cemas sekali. Sampai-sampai nenek menangis keras. Sambil mendekap fotoku nenek terus berdoa.

5 Jam pun berlalu….
            Dokter dan para perawat keluar dari ruang oprasi untuk menemui nenek di luar. “Oprasi di lakukan sebaik mungkin untuk menyembuhkan pasien. Tetapi oprasi gagal di lakukan. Dan pihak rumah sakit meminta maaf sebesar-besarnya atas kegagalan ini. Dan atas nama ananda Silva telah dinyatakan berpulang ke Rahmatulloh.”Jelas dokter sedih.
            Tiba-tiba suasana berubah. Alampun turut berduka atas kepergianku. Alam juga ikut menyaksikan penderitaanku selama hidup dan mati. SELAMAT TINGGAL DUNIA!!!!!!  Alangkah terkejutnya nenek saat mendengar kabar duka itu. Langsung saja nenek pingsan. Akhirnya nenek di bawa ke ruang VIP…Nenek bermimpi….
“Silva…!”Panggil nenek kepadaku diantara keramaian.
Aku langsung berlari mengejar nenek yang semakin jauh. “Nenek!!!”Panggilku berusaha memegang telapak tangan nenek.
“Silva,cucuku!!!Jangan tinggalkan nenek nak”Kata nenek juga berusaha memegang telapak tanganku. “Nek,,,nenek jangan pergi! Di sini aja nek. Di sini ada ayah dan ibu…hikss…hikss…Di sini ada banyak makanan enak dan ada tempat tinggal keluarga yang sangat bagus…Ayo nek gabung sama ayah,ibu,Silva,dan KAKEK!!!! Kakek juga menunggu nenek datang kemari…Hikss”Jelasku menggapai nenek. “Ya, nenek juga mau..”Jawab nenek. “Semoga terkabul apa yang diinginkan nenek TUHAN”Doaku sembari menangis merangkul nenek. “Satu menit saja Tuhan!”Kataku dan nenek saling berpelukan erat .

NAMUN NENEK TIBA-TIBA SAJA BISA TERUS MENDEKAPKU DAN CAHAYA YANG MEMISAHKANKU DENGA NENEK TELAH HILANG….
“SELAMAT BERGABUNG DI TAMAN SURGA!!!”Sambut semua orang di sekeliling kami pada nenek.
            Suara deguran ombak di rumahku telah berhenti. Kicauan burung pun tak lagi terdengar seperti dulu. Begitu juga rumahku yang sekarang di bongkar di jadikan sebuah vila penginapan. Kini semua berubah saat aku dan nenek tak pernah lagi melihatnya untuk selama-lamanya. “Andai Tuhan tak menciptakan alam indah ini sia-sia…Andai semua baik-baik saja..Andai Tuhan tak tau perjuangan hidup orang di bumi semua tak akan abadi…”
Thanks!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan lupa kasih pesan dan kesan ya!!